Berita

VIRAL! Mayoritas Penduduk Indonesia Kurang Memahami Cryptocurrency

185
×

VIRAL! Mayoritas Penduduk Indonesia Kurang Memahami Cryptocurrency

Share this article
Consensys, perusahaan terkemuka di dunia dalam teknologi perangkat lunak web3, bersama dengan YouGov, baru-baru ini merilis hasil survei global tentang industri kriptocurrency dan web3.
Consensys, perusahaan terkemuka di dunia dalam teknologi perangkat lunak web3, bersama dengan YouGov, baru-baru ini merilis hasil survei global tentang industri kriptocurrency dan web3.

SULUTVIRAL.COM – Consensys, sebuah perusahaan teknologi perangkat lunak terkemuka di dunia web3, telah bersama YouGov merilis hasil survei global tentang industri web3 dan kriptocurrency. Survei ini bertujuan untuk mengevaluasi pemahaman masyarakat global, termasuk Indonesia, terhadap dunia kriptocurrency.

Consensys dan YouGov melakukan survei tentang persepsi web3 global di 15 negara, yaitu Argentina, Brasil, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Jepang, Meksiko, Nigeria, Afrika Selatan, Korea Selatan, Filipina, Inggris, Amerika Serikat, dan Vietnam. Survei ini melibatkan 15.000 responden berusia 18-65 tahun, dengan 1.015 responden berasal dari Indonesia.

Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemahaman terhadap kriptocurrency di Indonesia masih rendah, sekitar 33 persen. Angka ini jauh di bawah negara-negara seperti Nigeria (78 persen), Korea Selatan (63 persen), Afrika Selatan (61 persen), Brasil (59 persen), dan India (56 persen).

Terdapat beberapa faktor yang menjadi alasan rendahnya pemahaman kriptocurrency di Indonesia, termasuk ketidakpahaman tentang cara memulainya (52 persen), ketidakpahaman tentang fungsinya (44 persen), kompleksitas teknologi yang sulit dipahami (43 persen), tingkat volatilitas dan risikonya yang tinggi (42 persen), serta banyaknya kasus penipuan (34 persen).

Sebagian besar alasan tersebut berkaitan dengan pemahaman masyarakat tentang aset kriptocurrency. Menariknya, banyak orang menganggap teknologi blockchain sebagai sesuatu yang rumit, dan hanya mereka yang memiliki pengetahuan teknologi yang cukup bisa memahaminya dan terlibat dalam ekosistem kriptocurrency.

CEO Tokocrypto, Yudhono Rawis, mengomentari hasil survei ini dengan menyatakan bahwa tingkat pemahaman yang rendah menciptakan tantangan dalam memperluas adopsi dan pemahaman mengenai teknologi kriptocurrency dan blockchain di Indonesia. Dia juga menekankan kurangnya edukasi yang memadai tentang kriptocurrency dan teknologi blockchain sebagai salah satu faktor utama yang mempengaruhi rendahnya pemahaman ini.

Sulut Viral Grup